Terperangkap dalam kesunyian, remang-remang cahaya tak mampu menelan pekatnya malam. Duhai Maharani, kerinduan mencekam sanubariku. Wahai kesepian…, adakah yang bisa membawaku disisinya tuk sekedar menyapa: ‘aku menyayangimu layaknya aku menyayangi ibuku, selamat malam.”
Jika serpihan kata tak bisa lagi mengetuk pintu sukmamu, ijinkan bayanganku menari-nari di pelupuk matamu. Jika pelepah rindumu terbalut keegoisanmu, bagiku cukup memenjarakan kerinduanku. Aku riskan, sebab senyummu tak pernah mau kompromi.
Seandainya ada gerimis malam menepis jendela kamarmu, maka itulah tepisan rinduku yang mengetuk jendela hatimu. Seandainya tidur malammu diganggu resah, maka itulah resah jiwaku yang teramat sepi tanpamu disisiku dan seandainya telingamu mendengar desiran angin beriak, maka itulah suara hatiku yang sedang dilanda gelora rindu membara.
Langganan:
Postingan (Atom)