Shaumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi, fa-in ghumma ‘alaikum fa-akmiluu sya’baana tsalaatsiin.
Artinya: "Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa)
dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak
olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari," (HR Bukhari
dan Muslim).
Kata “ru’yat” atau “melihat” disini masih menjadi perdebatan
di kalangan umat Islam sampai sekarang. Pada zaman dahulu ilmu falak atau
astronomi masih sangat terbatas dan sederhana maka satu-satunya cara untuk
mengetahui perjalanan fase bulan (bulan mati/baru, sabit, purnama) dengan
mengamati langsung langit angkasa. Salah satu keterbatasan metode ini faktor
cuaca atau alam seperti hujan, salju, langit mendung, awan tebal, dan
sebagainya sehingga proses pengamatan menjadi terganggu. Maka diperlukan
bantuan hitung-hitungan fase bulan yang pada saat itu juga masih sangat sederhana.
Maka muncullah istilah ikmal atau istikmal. Jika hilal tidak tampak atau
terlihat pada hari ke-29 bulan hijriyah berjalan, maka hari pada bulan hijriyah
tersebut digenapkan (istikmal) menjadi
30 hari.
Berangkat dari keterbatasan tersebut dan naluri rasa ingin
tahu (kuriositas) manusia yang selalu tumbuh dari masa ke masa, dari abad
ke abad, maka manusia senantiasa mempelajari dan memperdalam ilmu astronomi
tersebut baik dari segi pengamatan maupun perhitungan. Dari generasi ke
generasi tercipta berbagai macam pembaruan metode, algoritma, teknologi, yang
lebih sistematis dan lebih akurat.
Pembaruan dan kemajuan ilmu astronomi tak lepas dari dukungan ilmu-ilmu bantu lainnya, seperti matematika, fisika, metereologi, klimatologi, geofisika, statistik, teknologi (teknologi ruang angkasa, fotografi, komputasi, digitalisasi, teknologi informasi, GPS) dan sebagainya. Sehinggga fenomena alam seperti gerhana (matahari/bulan), bukan lagi hal yang misteri. Jauh-jauh hari bahkan puluhan tahun sebelumnya keberadaan atau lahirnya gerhana sudah bisa diprediksi secara spesifik tanggal, hari, jam, menit bahkan detik sampai hari ini semakin akurat dan terverifikasi (sesuai fakta atau kenyataan) apatah lagi hanya persoalan perpindahan/pergantian fase bulan dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.
Terkait dengan hal itu, pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita jawab kemudian adalah:
1. Apakah kemajuan ilmu astronomi yang diupdate
dari masa ke masa oleh para ilmuwan astronomi tidak melibatkan pengamatan dari
permukaan bumi (topografi) dan pengamatan dari ruang angkasa?
2. Apakah terciptanya teknologi informasi berupa
software (aplikasi) astronomis yang sudah banyak beredar di masyarakat dunia dan
senantiasa terupdate system dan algoritmanya tidak melibatkan pengamatan dan
perhitungan detail dari para ilmuwan astronomi? Pengetahuan tentang fase bulan
hanya sebagian kecil dari kajian ilmu astronomi.
3. Menurut perhitungan astronomis akan terjadi Gerhana
Matahari Cincin pada 17 Februari 2026 pukul 18:04 – 18:59 Wita (07:04-07:59
waktu Tierra del Fuego, Argentina). Gerhana ini hanya bisa diamati secara
langsung di sebagian kecil wilayah permukaan
bumi yaitu Antartika (kelihatan utuh) dan ujung selatan Amerika Selatan (Chili,
Argentina) yang sebagian terlihat. Apakah di sebagian besar wilayah permukaan
bumi termasuk Indonesia karena tidak bisa diamati secara langsung sehingga
dapat menyimpulkan bahwa gerhana matahari cincin itu tidak terjadi?
4. Apakah hanya karena hilal tidak tampak secara langsung
di wilayah tempat kita berada sehingga kita meyakini bahwa tidak atau belum
terjadi perpindahan/pergantian fase bulan (bulan baru) sehingga harus istikmal
(digenapkan) bulan hijriyah berjalan?
5. Apakah makna “melihat” hanya sebatas menggunakan
“mata kepala” atau memiliki makna yang lebih luas? Apakah “melihat dengan mata”
lebih utama dari “melihat dengan akal (sains)”?
6. Apakah pengetahuan kita terhadap sesuatu baru
kita yakini setelah kita melihat dulu secara langsung?
Era klasik sudah lama berlalu, jangan sampai kita ummat
Islam selama ini masih terjebak dalam kejumudan berpikir termasuk dalam penentuan
awal Ramadhan dan awal Syawal atau jangan sampai kita memang tak mau beranjak dari
status quo sehingga teks dan konteks pesan kenabian maupun keilahian tidak
mampu kita nalar baik.
Wallaahu a'lam bish-shawaab.
