Menyoal Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan dan Awal Syawal 1447 H

Awal Ramadhan dan Awal Syawal

Shaumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi, fa-in ghumma ‘alaikum fa-akmiluu sya’baana tsalaatsiin.

Artinya: "Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa) dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari," (HR Bukhari dan Muslim).

Kata “ru’yat” atau “melihat” disini masih menjadi perdebatan di kalangan umat Islam sampai sekarang. Pada zaman dahulu ilmu falak atau astronomi masih sangat terbatas dan sederhana maka satu-satunya cara untuk mengetahui perjalanan fase bulan (bulan mati/baru, sabit, purnama) dengan mengamati langsung langit angkasa. Salah satu keterbatasan metode ini faktor cuaca atau alam seperti hujan, salju, langit mendung, awan tebal, dan sebagainya sehingga proses pengamatan menjadi terganggu. Maka diperlukan bantuan hitung-hitungan fase bulan yang pada saat itu juga masih sangat sederhana. Maka muncullah istilah ikmal atau istikmal. Jika hilal tidak tampak atau terlihat pada hari ke-29 bulan hijriyah berjalan, maka hari pada bulan hijriyah tersebut digenapkan (istikmal) menjadi  30 hari.

Berangkat dari keterbatasan tersebut dan naluri rasa ingin tahu (kuriositas) manusia yang selalu tumbuh dari masa ke masa, dari abad ke abad, maka manusia senantiasa mempelajari dan memperdalam ilmu astronomi tersebut baik dari segi pengamatan maupun perhitungan. Dari generasi ke generasi tercipta berbagai macam pembaruan metode, algoritma, teknologi, yang lebih sistematis dan lebih akurat.

Pembaruan dan kemajuan ilmu astronomi tak lepas dari dukungan ilmu-ilmu bantu lainnya, seperti matematika, fisika, metereologi, klimatologi, geofisika, statistik, teknologi (teknologi ruang angkasa, fotografi, komputasi, digitalisasi, teknologi informasi, GPS) dan sebagainya. Sehinggga fenomena alam seperti gerhana (matahari/bulan), bukan lagi hal yang misteri. Jauh-jauh hari bahkan puluhan tahun sebelumnya keberadaan atau lahirnya gerhana sudah bisa diprediksi secara spesifik tanggal, hari, jam, menit bahkan detik sampai hari ini semakin akurat dan terverifikasi (sesuai fakta atau kenyataan) apatah lagi hanya persoalan perpindahan/pergantian fase bulan dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Terkait dengan hal itu, pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita jawab kemudian adalah:

1.     Apakah kemajuan ilmu astronomi yang diupdate dari masa ke masa oleh para ilmuwan astronomi tidak melibatkan pengamatan dari permukaan bumi (topografi) dan pengamatan dari ruang angkasa?

2.     Apakah terciptanya teknologi informasi berupa software (aplikasi) astronomis yang sudah banyak beredar di masyarakat dunia dan senantiasa terupdate system dan algoritmanya tidak melibatkan pengamatan dan perhitungan detail dari para ilmuwan astronomi? Pengetahuan tentang fase bulan hanya sebagian kecil dari kajian ilmu astronomi.

3.     Menurut perhitungan astronomis akan terjadi Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026 pukul 18:04 – 18:59 Wita (07:04-07:59 waktu Tierra del Fuego, Argentina). Gerhana ini hanya bisa diamati secara langsung  di sebagian kecil wilayah permukaan bumi yaitu Antartika (kelihatan utuh) dan ujung selatan Amerika Selatan (Chili, Argentina) yang sebagian terlihat. Apakah di sebagian besar wilayah permukaan bumi termasuk Indonesia karena tidak bisa diamati secara langsung sehingga dapat menyimpulkan bahwa gerhana matahari cincin itu tidak terjadi?

4.     Apakah hanya karena hilal tidak tampak secara langsung di wilayah tempat kita berada sehingga kita meyakini bahwa tidak atau belum terjadi perpindahan/pergantian fase bulan (bulan baru) sehingga harus istikmal (digenapkan) bulan hijriyah berjalan?

5.     Apakah makna “melihat” hanya sebatas menggunakan “mata kepala” atau memiliki makna yang lebih luas? Apakah “melihat dengan mata” lebih utama dari “melihat dengan akal (sains)”?

6.     Apakah pengetahuan kita terhadap sesuatu baru kita yakini setelah kita melihat dulu secara langsung?

Era klasik sudah lama berlalu, jangan sampai kita ummat Islam selama ini masih terjebak dalam kejumudan berpikir termasuk dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal atau jangan sampai kita memang tak mau beranjak dari status quo sehingga teks dan konteks pesan kenabian maupun keilahian tidak mampu kita nalar baik.

Wallaahu a'lam bish-shawaab.

(Pondok Asrinet, Senin 16 Feb 2026, dinihari 01:09 UTC +8)
Read more...